SEJARAH SINGKAT THORIQOT QODIRIYYAH WAN NAKSABANDIYYAH DI REJOSO
Menjelang
abad XX berdirilah kelompok muslim dengan sebutan santri toriqot yang
dipimpin oleh seorang kiyai berasal dari Demak jawa tengah.kiyai
tersebut semula menjadi santri dari ulama’ / kiyai yang sudah lama
berdomisili di desa rejoso kecamatan peterongan jombang jawa timur
bernama kiyai M. tamim konon beliau adalah keluarga dari ulama’ terkenal
di bangkalan madura
M Djuraimi nama kecilnya dan K H M Kholil nama
sebutan dewasanya, seorang santeri dari KHM Tamim yang mendapat
penghargaan di ambil menantu, karena alimnya di bidang agama. tegasnya
pernikahan antara KHM Kholil dengan kakak perempuan KH Romli
Tamim(bernama Fatimah) dimaksutkan dapat mewakili KHM Tamim Memimpin
pengajian di pondok pesantren tersebut
Sekembalinya KHM Kholil dari
mekkah dalam menunaikan ibadah haji, pada awal abad xx terjadilah
perubahan/peningkatan kegiatan pengajian di rejoso dengan adanya
jam’iyah ahli toriqot yang di ambil dari dua aliran, yaitu toriqot
qodiriyah dan toriqot naqsabandiyah
Qodiriyah wan naqsabandiyah
adalah nama toriqot yang di bina dan di amalkan di rejoso, yang pada
zaman KHM Kholil masih nampak akulkurasi dalam tatacara
bertoriqot.diantaranya mengharuskan bagi pengikut/santri toriqot berbaju
putih bersih dalam melakukan aurat atau khususiyah (hanya dilakuakan
pada hari kamis seperti yang berlaku sampai sekarang yakni”kemisan“),
di ikuti oleh orang yang khusuk (menurut penilaian umum) dan berusia
lanjut antara usia 40 tahun keatas baik laki-laki maupun
perempuan,dangan beberapa bentuk tatacara dalam upaca dan sebagainya, di
maksud untuk membedakan antara bertoriqot dan tidak bertoriqot
Pada sekitar th 1930-an KHM Romli tamim kembali pulang dari pondok
tebu ireng untuk menetap di pondok rejoso guna kmembina pesantren.
semula KHM Tamim bukan guru toriqot, beliau hanya guru fiqih dan nahwu
yang bernamaan, karena sejak di tebu ireng (di pondok KH Hasyim as’ari)
sebagai guru madrasah dan guru ngaji dengan metode balagh fiqih/ilmu
aqoid dengan tehnik ngaji” wethon” yang sudah cukup banyak santrinya.
Sepulang KHM Romli Tamim dari tebu ireng ke rejoso, santri-santri
yang di binanya kebanyakan mengikuti KHM Romli Tamim untuk meneruskan
balahnya di pondok rejoso, jumlah mereka kurang lebih 30 orang yang
berasal dari jawa timur, jawa tengah, jawa barat, dengan demikian
situasi podok rejoso menjadi ramai dan terkenal
Kiyai Kholil Atau Djuraimi tetkenal dangan kiyai toriqot sedangkan
kiyai Romli tamim terkenal dengan sebutan kiyai rejoso perbedaan jumlah
santri maupun kegiatannya antara santri toriqot dan santri yang ngaji
pada KHM Romli Tamim sangat menyolok, karena hampir semua santri mondok
kerejoso pada umumnya hanya mondok dan ngaji kepada kiyai romli.
tecermin semula santryang di bawa dari tebu ireng berjumlah hanya
sekitar 30 orang 2 tahun kemudian sudah berjumlah dari 200 orang. pada
umumnya santeri-santri rela dan ikhlas mendirikan pondok/asrama sendiri
di tanah KHM ROMLI TAMIMasalkan diperkenankan untuk ikut mengaji.
KH.M. ROMLY TAMIM BERTORIQOT
Satu tahun menjelang wafatnya kiyai Djuraimi atau KHM Kholil berdasarkan ilham dari Alloh swt, KHM Kholil
mengajarkan dan menyerahkan guru toriqot kepada KHM Dahlan (putra KHM
Kolil)namun beliau merasa lebih muda dari KHM Romli tamim maka KHM
Dahlan memohon kepada KHM Romly Tamim agar bersedia memimpin dan
menerima ijazah sebagai almursidin toriqot dari KHM Kholil, dengan
pertimbangan agar toriqot dapat berkembang pesat harus di pegang atau di
pimpin orang mempunyai pengatuh besar di kalangan santri-santri dan
umat islam.satu-satunya di tangan kiyai Romli lah toriqot menjadi besar.
setelah dapat mendapat ajaran dan harapan kiyai khlil tentang toriqot,
KHM Romli Tamim belum bisa menerima pada waktu itu. beliau menunggu
istikharoh dan ijin gurunya, yaitu kiyai H. Asyari(bukan guru toriqot)
hasil istikharoh dan pertimbangan KH Hasim Asyari menyetujui baru beliau
KHM Romli menerima ajakan KHM Kholil memimpin toriqot di rejoso.
informasi lebih lanjut Silahkan datang ke Pon-Pes Darul Ulum Peterongan-Jombang

Komentar
Posting Komentar