Mengapa Harus Menggunakan Akal, Fikir dan Qolbu??



Akal berasal dari bahasa arab, asal kata ‘aqala- ya’qilu, yang memiliki makna mengikat.
Berfikir, berasal dari bahasa arab fa-ka-ra dengan arti berfikir. Dan kata fakara berasal dari kata faraka (melalui taqallubat) yang bermakna antara lain; menggosok, menumbuk, mengorek, menyikat. Kesemua makna itu menunjuk pada makna “mengolah” sesuatu..
Duhai jiwa, pergunakanlah akalmu sebagai pengikat buku- buku ilmu dalam memori otakmu. Sebagai pemilik buku- buku tersebut, janganlah sampai engkau dipermalukan oleh orang lain ketika engkau ditanya apakah isi dari buku- bukumu itu dan kau hanya terdiam karena ketidaktahuanmu. Maka bukalah buku- buku ilmu tersebut dan koreklah apa isi didalamnya.   
Jika kau bertanya “Mengapa aku harus melakukannya (mengikat ilmu dan mempelajari isinya) ?”
Kau tau kenapa? Karena An- nafs terbentuk dalam diri seseorang melalui pengalaman

*kerja akal dengan  indranya(as sam’u) serta pikir dengan analisanya (al bashar),kedua hal itu kemudian membentuk jiwa atau mind yang dalam bahasa arab disebut an- nafs.
Pengalaman is the best teacher, itu pepatah yang benar- benar nyata. Kenyataannya sering kali kita merasa santai dan tenang tenang saja ketika melewati jalan yang mulus. Namun ketika kita menemui jalan yang tidak mulus, rusak, banyak lubang, otak mulai mengakali dengan caranya sehingga ia dapati keselamatan. Begitulah semestinya kita menggunakan akal untuk mengikat beberapa ilmu, mengolah atau menganalisa dengan pemikiran- pemikiran tertentu dan lahirkanlah sebuah sikap yang menuju kepada kebaikan.
Itulah Qolbu.. Qolbu membawa fitrah ilahiyah yang selalu mengajak pada kebaikan. Fitrah ilahiyah itu sendiri adalah agama dan kehanifan (jalan lurus)

Ar Rum;30..
Manusia menurut fitrah beragama tauhid
30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui[1],
[1]. Fitrah Allah: maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.

Rasulullah bersabda,” …Wahai Wabishah, tanyakan kpd kalbumu dan nafsmu (jiwamu) –tiga kali- , kebaikan itu jika jiwa merasa tenang (ketika melakukan perbuatan itu), dan kejelekan itu jika jiwa merasa bergolak sedang (kalbu) merasa ragu di dalam dada, walaupun seseorang atau semua manusia menasehatimu..”  (HR Ahmad)
SalamBening, hati.. :) :')

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mutiara.....

Esensi Padi..... Pahamkanlah, hati...